oleh: Malik Ibn Syafi'i
A.Hadits tentang keutamaan shafأخبرنا اسحاق بن ابراهيم حدَثنا جرير عن سهيل عن ابيه
عن ابى هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلَم خير صفوف الرجال اوَلها وشرَها اخرها و خير صفوف النساء اخرها وشرَها اوَلها
Setelah melacak hadits menggunakan kamus (mu’jam) dengan kata kunci صفوف maka penulis menemukan hadits tersebut diriwayatkan oeh tujuh perawi. Yaitu: Nasa’I, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Darimi, Ahmad bin Hambal, dan Ibnu Majah.
Nasa’I, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Darimi, dan Ibnu Majah meriwayatkan dengan lafadz:
خير صفوف الرجال اوَلها وشرَها اخرها و خير صفوف النساء اخرها وشرَها اوَلها
Disebutkan dalam kitab
shalat hadits ke-132 sahih Muslim, sunan Abu Daud hadits ke-97, tirmidzi pada fasal mawaqit hadits ke-52, Nasa’I bab shalat hadits ke-32, Ibnu Majah pada hadits ke-52 bab iqamah, dan darimi hadits ke-52.
Sedangkan Ahmad bin Hambal meriwayatkan dlam ktab musnad juz II dengan lafadz:
خير صفوف الرجال فى الصلاة اوَلها وشرَها اخرها و خير صفوف النساء فى الصلاة اخرها وشرَها اوَلها
Penelitian terhadap kualitas sanad selanjutnya difokuskan pada rangkaian transmiter yang terlibat dalam periwayatan hadits dengan matan berikut
خير صفوف الرجال اوَلها وشرَها اخرها و خير صفوف النساء اخرها وشرَها اوَلها
Hadits tersebut di-tarkhrij oleh Nasa’I dalam kitabnya sunan al-Nasa’I dan diagram transmitter hadits tersebut sebagai berikut
Hadits tersebut ditakhrij oleh Nasa’I yang memilik jalur sanad: Ishaq bin Ibrahim, Jarir, Suhail, dan Abi Hurairah. Sebelum penulis menguraikan biografi masing-masing perawi, analisis kebersambungan sanad, serta tebebasnya sanad tersebut dari syadz dan illat alangkah lebih baiknya jika mengetahui ranji sanad dari hadits semakna yang diriwayatkan oleh tujum amamul hadits:
B.Kritik sanad hadits
1)Tabel transformasi hadit
Nama Perawi
TL-TW/ Umur
Guru
Murid
Jarh wa Ta’dil
Ishaq bin ibrahim
L : 166
W: 238
U : 62
113 Orang
Jarir Bin Abdul Hamid
Ja’far Bin Auf
Hatim Bin Ismail
33 Orang
Nasa’i
Ahmad Bin Said Ad-Darimi
Hasan Bin Sufyan
Abdullah: ishaq adalah imam dari imam-imam orang muslim
Abdullah bin Thahir: ishaaq hafal 100.000 hadits
Wahb jin jarir: dia adalah orang yang jujur dalam menyebarkan kebenaran islam
Bin Abdul Hamid
L: 107
W: 188
U: 81
52 Orang
Hasan Bin Ubaidillah
Sufyan Al-Sturi
Suhail Bin Abi Shaleh
44 Orang
Ishaq Bin Ibrahim
Abdullah Bin Mubarok
Qutaibah Bin Said
Abu Bakr Alhamid: La Ba’sa Bih
Nasa’i: Stiqqah
Abdurrahman Bin Yusuf: Shuduq
Abdul Qasamah: stiqqah
Suhail Bin Abi Shaleh
L: -
W: -
U: 63
25 Orang
Harits Bin Mukhalid
Dzakwa Al-Samma
Abdullah Bin Burdah
56 Orang
Jarir Bin Abdul Hamid
Isamail Bin Zakaria
Malik Bin Anas
Tarmidzi: shalih sabtan fi haditsihi
Ahmad bin Hanbal: ma ashlaha hadtsihi
Yahya bin said: astbata indahum
Abu Hatim: yaktubu haditsihi wa la yahtaju bihi
Abu ahmad: la ba’sa bihi
Dzakwa Al-Samma
L: 38
W: 101
U: 63
25 Orang
Abdullah Bin Umar
Muawiyah Bin Abi Sufyan
Abi Hurairoh
52 orang
Suhail Bin Shaleh
Hamid Bin Abi Stabit
Thalha Bin Musharif
Abdullah Bin Ahmad: stiqahtu stiqah
Abu hatim: stiqqah dan,
Shalihul hadits yuhtaju bihadistihi
Muhammad bin saad: stiqqah
2)Biografi Perawi Dan Kebersambungan Sanad
1.Ishaq bin Ibrahim
Nama lengkap beliau adalah Ishaq bin Ibrahim bin Mukhlad bin Ibrahim bin Mathar al-Hanzhali. Lahir di Naisabur pada tahun 166 H dan menjadi imam bagi orang-orang muslim. Dalam menuntuit ilmu beliau berkelana dari negri satu ke negri yang lain tecatat beliau prnah ke Iraq, hijaz, yaman, hisyam khurasan, dan kembali ke Naisabur untuk menyebarkan ilmunya hingga wafat pada tahun 238 H1.
Dari perjalannya itulah beliau memiliki lebih kurang 113 guru, di antara guru-gurunya adalah Ja’far bin Auf Al-Kufi, Jarir bin Abdul Hamid, dan Hatim Bin Ismail al-Madani. Sedangkan muridnya lebih kurang 33 orang termasuk diantaranya imam hadits yang delapan (termasuk Nasa’i).
Imam Nasa’i menerima langsung hadits dari beliau dengan sighat akhbarana dan mendapat langsung hadits dari gurunya Jarir bin Abdul Hamid. Jadi beliau memiliki sanad yang bersambung (muttashil).
2.Jarir bin Abdul Hamid.
Lahir pada tahun 107 H2 dan besar di Khufa yang memiliki nama lengkap Jarir bin Abdul Hamid bin Qurthi. Seorang yang alim dan menguasai berbagai bidang keilmuan.
Memiliki guru dan murid yang banyak menunjukkan bahwa beliau adalah seorang yang benar-benar menguasai hadits, tercatat beliau memiliki 52 orang guru diantaranya adalah Hasan bin Ubaidillah, Sufyan al-Sturi, dan Suhail bin Abi Shalih. Dan memiliki 44 murid tiga diantaranya adalah Ishaq bin Ibrahim, Abdullah bin Mubarok, Qutaibah bin Said.
Beliau langsung memperoleh hadits dari suhail bin abi shalih dengan sighat muan’an, dari sinilah kita bisa mengetahui kebersambungan sanad yang beliau miliki muttashil.
Beliau wafat pada tahun 188 H tapat pada umur 81 tahun, umur yang cukup sepuh yang dimiliki kaum muslimin.
3.Suhail bin Abi Shalih.
Memiliki nama lengkap Suhail bin Abi Shalih beliau adalah seorang ahli hadits yang cukup disegani pada masanya. Berguru pada 25 orang ulama dimana tiga diantaranya adalah Harist bin Mukhalid al-Anshari, Dzakwan al-Samman, dan Ubaidillah bin Burdah. Karena kemasyhurannya beliau memiliki murid sebanyak 56 orang dan tiga yang terkenal diantaranya adalah Jarir bin Abdul Hamid, Ismail bin Zakaria, Malik bin Anas.
Mengenai lahir dan wafatnya tidak diketemukan referensi yang menyebutkannya tapi melihat masa hidupnya beliau hidup pada masa tabi’ tabiin. Mengenai hadits yang beliau riwayatkan yakni langsung dari gurunya yang merupakan pabak kandunganya sendiri. Dengan sighat muan’an jelaslah bahwa beliau memiliki ketersambungan sanad yang tidak terputus.
4.Dzakwan bin Abi Shalih al-Samman
Lahir pada tahun 38 H beliau merupakan ulama yang amanah dan berguru lebih kurang sebanyak 25 ulama’ dimana tiga diantranya adalah Abdullah bin Umar, Muawiyah bin Abi Sufyan, Abi Hurairah. Sedangkan murid beliau mencapai 52 murid yang tersebar dari berbagai daerah. Murid-murid beliau yang berhasil muncul menjadi ulama’ diantaranya Suhail bin Abi Shalih, Ibn Abi Stabit, dan Thalha bin Musharraf.
Beliau meriwayatkan hadits langsung dari sahabat rasullah Abi Hurairah dengan sanad yang bersambung menggunakan sighat muan’an. Beliau wafat ketika berusia 63 tahun tepatnya pada tahun 101 H ditanah kelahiranya madinah munawarah.
5.Abi Hurairah
Beliau merupakan sahabat Rasulullah yang menjadi abdinya dan meninggalkan kesenagan dunia dengan menjadi ahli sufi di Zawiyah masjid Nabawi. Beliau juga sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits dari rasulullah
Dengan begitu tidak diragukan lagi kredibelitas dalam ilmu hadits3 penulis juga berkesimpulan bahwa semua periwayat hadits yang telah diteliti memiliki ketersambungan sanad tampa ada stupun yang terputus.
3)Kualitas Pribadi dan Kapasitas Intelektual Perawi
1.Ishaq bin Ibrahim
Penilaian kritikus hadits terhadap pribadi perawi sebagaimana yang dilontarkan oleh Hambal bin Ishaq beliau adalah imam dari imam-imam kaum muslimin. Sedangkan Abdullah bin Thahir mengatakan bahwa Ishaq adalah ahli hadits yang hafal 100.000 hadits4 begitu juga Saudbin Zuaib yang berkata tidak akan ditemukan orang seperti Ishaq bin Ibrahim di bumi ini.
Dengan begitu terlihatlah bahwa beliau adalah searang perawi yang ta’dil, dan riwayatnya dapat dijadikan hujjah meskipun bukan pada tingkatan tertinggi.
2.Jarir bin Abdul Hamid
Penilai kritikus hadits terhadap pribadi perawi disebutkan bahwa beliau seorang perawi hadits yang stiqqah begitu penuturan Nasa’i dan Abu Qasim, sedangkan Umar berkata la ba’sa bih perkata berbalik disampaikan oleh sufyan bin uyainah fala hajat lii fiha,5
Dalam kitab yang lain tazhibut tashib ibn hibban dam khalili berkata Stiqaati6 Meskipun ada beberapa kritikus yang menyatakan kenegatifan pada keintelektualan perawi akan tetapi jika dibandingkan maka jumhur ulama’ sepakat akan keta’dilan Jarir bin abdul hamid sehigga penulis menagamil kesimpulan bahwa sanad perawi maqbul.
3.Suhail bin Abi Shalih
Kritikus terhadap Suhail bin Abi Shalih sitqqah seperti yang dikatakan Ahmad bin Abdullah dan Ibnu Said dan Ibn Hibban7. Dalam bahasa yang berbeda turmidzi berkomentar stabtan fil haditi dan Harb bin Ismail mengatakan ma ashlaha hadistahu, berbeda dengan redaksi yang diberikan Yahya bin said berkomentar astbata indahum.
Sejalan dengan Harb bin Ismail Abdurrahman berkata laisa haditsahuma bihujjah ditambah dengan Abu Hatim yaktubu hadistahu wala yahtaju bihi dan Nasa’i laisa bihi ba’sa. Akan tetapi Abu Ahmad mengataka stabt la ba’sa bih maqbulul ikhbari.8
Dari pemaparan kritikus-krutikus hadits tersebut jelaslah ada pendapat yang berbeda tentang perawi hadits, ada yang mengatakan dapat dijadikan hijjah dan ada yang tidak. Lagi-lagi kjika dikalkulasikan antra yang meneri debfab tidak secara kuantitas banyakan yang mnerima. Dari situlah penulis mengambil kesimpulan yang lebih banyak lebih mempunyai alasan untuk dijadikan hujjah.
4.Dzakwan bin Abi Shalih al-Samman
Komentar para krutikus hadits terhadap kualitas perawi, setelah penulis lakukan penelitian dari beberapa literatur yang ditemukan ada beberapa ulama yang mengatakan stiqqah diantaranya Ahmad bin Hanbal, Abu Hatim, M. Ibnu Said, Saji, Ajli. Dan abu Zahroh menambahkan beliau adalah mustaqul hadits. Dengan bahasa yang berbeda Abu Hatim menamnahkan komentarnya bahwa beliau adalah seorang shahibul hadits yahtaju bi haditsihi.
Dari semua komentar tersebut tidak seorang ulama yang berpendapat negatif kepada beliau dan ini menunjukkan beliau adlah seorang yang bersih dan langsung menerima hadits dari Abi Hurairah (sahabat Rasulullah). Dan hadits yang diriwayatkan beliau maqbul.
4)Penilaian terhadap kualitas sanad hadits
Seluruh perawibersifat siqqah dan tidak seoprangpun diantara perawi yang memiliki kecacatan. Meskipun ada diantara ulama yang mengataka salah satu perawi kualitas haditsnya hanya bisa ditulis dan tidak bisa dijadikan hujjah. Selain itu keberlangsungan dalam transformasi hadits dari guru kemurid tidak seorangpun yang terputus semuanya muttasil.
Dengan memperhatikan kaedah kesahihan hadits, seluruh kriterianya semua terpenuhi oleh sanad tersebut stiqqah, dan keta’dilan perawi dapat sijadikan hujjah kemudian penulis mengamil kesimpulan hadits tersebut berprediat sahih dengan alasan ta’dil perawi dan kebersambungan sanad.
C.Kritik matan hadits
Penelitian kualitas matan sesuai dengan petunjuk penelitian hadits, maka penulis mengunakan mu’jam al-Qur’an dengan kata kunci صاف ada i5 ayat dengan kata yang berbeda akan tetapi dari kesemuanya tidak satupun ayat yang membicarakan tentang keutamaan shaf shalat.
Kemudian penulis menggunakan metode kedua yaitu melalui hadits tang shahih atau lebih sahih. Ada beberapa hadit yang berkaitan dan menguatkan akan posisi hadits tersebut, seperti hadits yang diriwayatkan bukhari dan muslim sebagai berikut:
انَ رسول الله صلى الله عليه وسلَم قال لويعلم الناس ما فى النداء والصفَ اوَل ثم لم يجدوا الاَ ان يستهموا عليه
“bahwasanya rasulullah bersabda: sekiranya manusia mengetahui pahala yang ada pada adzan dan shf pertama lalu mereka tidak mendapatkannya kecuali dengan mengundi, niscaya mereka akan mengadakan undian”
Dalam riwayat lain bukhari mentrkhrij hadits:
انَ رسول الله صلى الله عليه وسلَم قال لويعلمون ما فى الضف المقدَم لاستهموا
“bahwasanya rasulullah bersabda:sekiranya mereka mengetahui apa yang ada pada shaf terdepan maka mereka akan mengundi
Muslim meriwayatkan:
انَ رسول الله صلى الله عليه وسلَم لو تعلمون او يعلمون ما فى الضف المقدَم فكانت فرعة
” bahwasanya rasulullah bersabda: seandainya kalian mengetahui ayau dia mengetahi apa yang ada pada shaf terdepan maka akan terjadi pengundian.
Hadits tersebut jelas-jelas memberikan penjelaan tentang keutamaan shaf terdepan bahkan an-Nawawi mengisaratkan sekiranya para wanita salat berjamaah yang mana mereka tidak melihat laki-laki dan laki-laki tidak melihat wanita, maka kondisi seperti itu menjadikan shaf paling utama bagi wanita adalah yang pertama dan yang paling jelek adalah yang terakhir.9
kemudian penelitian matan dilanjutkan dengan mengaitkan dengan fakta sejarah, hadits ini ada dengan tujuan agar tercipta ketertiban dan kerapian dalam shalat, dan tidak terjadi percampuran shaf antara laki-laki dengan perempuan.
Apabila kita berbicara rasio maka akal kita akan mengatakan kekhusyuan dalam shalat sangat ditentukan oleh shaf, kerapian shaf dalam shalat memberikan kita ketenangan dalam beribadah, selain itu pemisahan shaf antara laki-laki dan perempua bukan semata-mata umtuk memuliakan salah satu jenis akan tetapi memberikan pelajaran pada kita kekhusyan dalam beridah uru penting dan laki-laki dengan perempuan itu bukan untuk dibed-bedakan. Hali inilah yang coba dijelaskan imam an-Nawawi tanpa membedakan keduanya.
Setelah mencoba meneliti sanad dengan beberapa metode kemudian penulis mencoba untuk mengambil kesimpulan. Hadits tersebut telah dikuatkan dengan hadits lain dan lebih shahih kualitasnya (Bukhari dan Muslim) dan telah sesuai dengan rasio akan keberada shaf laki-laki dan perempuan sehingga penulis mengatakan hadits tersebut sahih dari matannya dan dapat dijadikan hujjah.
D.Pemahaman hadits
1)Pemahaman melalui kitab syarah hadits
Kata خير صفوف الرجال bermakna sebaik-baiknya shaf bagi laki-laki maksudnya shaf yang paling utama ganjarannya bagi laki-laki, sedangkan kata شرَها bermakna sejelek-jeleknya maksudnya yang paling sedikit ganjaran pahalanya, dan kata خير صفوف النساء bermakna sebaik-baiknya shaf bagi wanita maksudnya shaf wanita berjamaah yang paling utama bersama dengan jema’ah laki-laki.10
Adapun sebab keungulan shaf pertama dari shaf-shaf laki-laki adalah bahwasanya orang yang menempati shaf pertama dengan kesungguhan mereka maju kedepan untuk shalat menjadikan mereka lebih memgetahu kondisi imam dan paling cocok dalam mengikuti gerakan imam, dan ketika syariat islam bersungguh-sungguh dalam menjaga kesucian laki-laki dan perempuan dari segala kotoran syubhat, godaan syetan, dan laki-laki yang bersebelahan dengan wanita serta sebaliknya. Singkatnya menghindari tercampurnya antara shaf laki-laki dan wanita.11
2)Pemahaman dengan pendekatan tanawwu’ al-’ibadah
Hadits dibawah ini menjelaskan tentang keutamaan shaf didepan:
انَ رسول الله صلى الله عليه وسلَم قال لويعلم الناس ما فى النداء والصفَ اوَل ثم لم يجدوا الاَ ان يستهموا عليه
تقدَموافائتموابى واليأتم بكم من بعد كم لا يزال قوم يتأخرون حتَىيؤخرهم الله
Hadits lain menjelaskan tentang keutamaan shaf terdepan dan tidak menjelaskan posisi shaf perempuan yang mana lebih utama sehingga memberikan pemahaman bahwa shaf perempuan juga utama di depan bergabung dengan laki-laki karena ingin mendapatkan keutamaan pahala meskipun dengan diundi.
خير صفوف الرجال اوَلها وشرَها اخرها و خير صفوف النساء اخرها وشرَها اوَلها
Bagaimana menyelesaikan dan memahaminya?
Dengan adanya hadits tersebut jelas bahwa yang utama di depan adalah laki-laki.
Apabila tidak ada laki-laki dalam shalat maka yang utama bagi perempuan adalan pada shaf di depan.
Shaf terakhir bagi perempuan lebih baik dari pada di depan jika ada laki-laki
Dengan demikian afdhal bagi laki-laki untuk shalat pada shaf terdepan, dan bagi perempuan lebih banyak pahalah di belakang dari pada di depan.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Dari hasil penelitian penulis tentang hadits keutamaan shaf bagi laki-laki dan wanita tersebut dapat dipetik beberapa kesimpulan:
Hadits tentang keutamaan shaf laki-laki dan wanita tersebut adalah shahih dari segi sanadnya karena selain sanadnya yang bersambung (muttashil)hingga Rasulullah, perawi yang mentransformasikannya adalah para perawi yang terpercaya, bersih dan dapat dijadikan hujjah karena stratifikasinya menempati urutan pertana dan kesemuanya memiliki nilai positif.
Dilihat dari matannya hadits tersebut juga sahih karena sesuai dan dikuatkan oleh hadits yang lebih shahih.
Setelah melakukan pemahaman hadits teryata hadits tersebut tidak bertentangan dengan hadits yang lain. Pendekatan dengan tanawwu’ al-’ibadah menjadikan hadits tersebut lebih kuat dan lebih muda difahami.
Demikian yang dapat penulis simpulkan walhasil dilihat dari kesemuaannya hadits yang diteliti penulis adalah hadits shahih.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Aqsalani, Shihabuddin Fadli Ahmad bin Ali. Tahzhib Wa Tahzhib. Dar Al-Fikr: Beirut.
Bin Said, Salim, 1999. ensiklopedi larangan menurut al-Qur’an dan sunnah. Pustaka asy-Syafi’iyah: Bandung.
Nawawi. Syarah bulughl mahram.
Sumbulah, Umi. 2008. Kritik hadits pendekatan historis metodelogis. UIN-Malang Press: Malang
Yusuf al-Mazy, 1994. Jamaluddin Abu Hajjah Tahzhibl Al-Kamal fi Asma' Al-Rijal. DarAl-fikr. Beirut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar