Selasa, 17 Agustus 2010

Berjuang atau hidup dalam ketertindasan

oleh: Malik Ibn Syafi'i
Mungkin kata-kata tersebut masih familiar di telinga kita semua. Moto yang dijadikan jargon oleh Presiden Fakultas sekarang pada saat kampanye bulan Januari lalu. Mendengar serta membacanya kalimat tersebut membuat motivasi tersendiri bagi mahasiswa, melihat kondisi Fakultas Syariah pada kenyataannya saat ini. Dan memang kita butuh pemimpin yang berani, tegas serta bijaksana dalam mengemban amanat yang diberikan kepadanya. Karena saat ini masih banyak persoalan di Fakultas Syariah yang harus dikomunikasikan dan mendapat solusi yang pasti, baik itu menyangkut kurikulum, laboratorium hingga praktikum yang kesemuanya kebanyakan belum bisa berjalan maksimal.
Kurikulum misalnya ada kesenjangan antara dosen yang mengajar dengan mata kuliah yang diampuhnya, pada dasarnya tidak menguasai keilmuan tersebut akan tetapi dipaksakan yang akhirnya bukan mencerdaskan mahasiswa akan tetapi malah membodohi mahasiswa, kadangkala sering ditemukan dosen yang tidak bisa interaktif pada mahasiswa, meskipun secara keilmuan mereka mumpuni, tapi tidak tahu bagaimana mentranformasi keilmuannya pada mahasiswa, lagi-lagi mahasiswa menjadi korban. Dan beberapa mata kuliah juga kita temukan tidak tepat pemasarannya dengan bahasa lain telah kadaluarsa untuk dikaji oleh mahasiswa. Ditambah lagi pengaturan jadwal kuliah yang pasang surut serta pembagian kelas yang tidak ideal, ini terlihat jelas pada semester IV dimana tidak meratanya jumlah mahasiswa dalam tiap kelas berimplikasi dengan tidak kondusifnya belajar-mengajar.
Laboratorium untuk saat ini masih banyak yang belum terpenuhi, coba kita tengok laboratorium falak yang hanya berisikan secuil alat praktek yang belum tersentuh. Ini merupakan tanda tanya besar bagi mahasiswa?
Praktekpun menjadi masalah, karena kurangnya media yang disediakan. Yang sangat mencolok dan merupakan permasalahan klasik adalah Praktikum Falak dimana selalu bermaslah dari tahun ketahun. Tidak adanya transparansi keuangan fakultas lagi-lagi membuat mahasiswa bertanya kemana uang praktek kami sebesar Rp 200.000 ??? tidak jelas pengeluarannya, dan yang mahasiswa alami hanya beberapa mata kuliah saja yang ada prakteknya, apabila kita kalkulasikan tidak memakan uang banyak. jika dibandingkan jumlah mahasiswa yang membayar uang praktek.
Dari uraian di atas merupakakan segelintir permasalahan yang ada di Fakultas Syariah belum termasuk permasalahan yang dialami mahasiswa Hukum Bisnis Syariah terkait dengan kompetensi dan pembelajaran skill yang akan mereka dapatkan. Ditambah lagi sekarang Fakultas Syari’ah telah membuka jurusan baru, yaitu Perbankan Syariah dengan berbagai kebutuhan software maupun hardware yang belum tuntas. Termasuk tentang kualifikasi dosen pengampuh dan kurikulumnya. Masih banyak lagi permasalahan jika kita mau membuka mata dan berkomunikasi.
Dan kesemuanya adalah PR bagi Presiden terpilih beserta kabinetnya. Mampukah mengemban amanat yang diberikan Mahasiswa Fakultas Syariah. Dan moto “Berjuang atau Hidup Dalam Ketertindasan” bukan hanya sekedar jargon belaka tapi benar-benar diaplikasikan dalam memperjuangkan apa yang menjadi hak mahasiswa. Perlu diingat bahwa menjadi Presiden Fakultas Syariah bukan hanya untuk gagah-gagahan atau sebuah jabatan eksekutif yang patut dibanggakan dengan berkata “inilah aku” tapi ini adalah amanah dan bukan untuk dipermainkan “kullukum raain wakullukum masulun an ra’iyatihi.

Tidak ada komentar: