Rabu, 01 September 2010

Televisi "Bagaikan Ruh"

oleh: Malik Ibn Syafi'i
Dewasa ini, Televise (TV) telah menjadi kebutuhan primer dan bukan barang antik lagi. TV bagaikan ruh yang akan membuat manusia mati jika dipisahkan sedetik saja dalam kehidupan. Perkembangan TV juga sangat pesat, kita bisa temukan TV disetiap rumah sampai ke pelosok desa. Sebuah realita yang tidak akan kita jumpai beberapa dekade kebelakang.
Banyak manfaat yang bisa dikonsumsi dari acara-acara TV. Informasi-informasi terkait dunia politik, ekonomi, social-budaya, dan agama secara cepat bisa diakses dari berbagai cenel TV. Melalui TV kita bisa melakukan aktivitas belajar mengajar, berdakwah, dan menyampaikan pesan agama. Tidak ketinggalan penanyagan realita dari sejarah bangsa bisa dikemas dan disajikan dalam bentuk cerita film sebagai wujud nasionalisme serta patriotik terhadap tanah air.Disisi lain, TV telah menina-bubukan kita menjadi insan konsumtif, vakum, dan tertipu oleh cerita.
TV mendekontruksi dan membunuh realita dengan berbagai tanyangan yang disimulasi serta dimanipulasi. TV juga telah menyihir kita dalam suatu ruangan, sehingga jutaan manusia terdiam. Apa yang difatwakan TV benar maka itulah kebenaran terlepas dari berbagai kontraversinya. Seakan-akan TV menjadi Tuhan sehingga apa yang ditanyangkan menjadi wajib untuk ditiru dan bangga mengikutinya sebagai trend perkembangan zaman.
Banyak hal yang membuat kita geleng kepala ketika menyaksikan TV. Bagaimana bisa dikatakan baik, jika ada orang berpakaian segitiga dan sehelai kain menutupi dada lalu bergoyang dan menyanyi?
Akhir-akhir ini juga kita dihebohkan dan dijejali dengan berita asusila video mesum mirip dengan artis Ariel, Luna Maya dan Cut Tari. Akibat dari penanyangan TV yang berlebihan serta terus-menerus diberitakan, maka menimbulkan rasa penasaran bagi penonton tanpa terkecuali anak-anak. Kemudian mereka beramai-ramai mencari serta mendownload video tersebut melalui internet dan handphone (HP). Lalu tidak heran jika Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) prihatin atas penayangan potongan video porno mirip Ariel, Luna Maya dan Cut Tari yang sering muncul di televisi. Tayangan tersebut dinilai berdampak buruk bagi anak-anak yang melihatnya. Komnas PA mendesak televisi menghentikan tayangan tersebut. "Stop tayangan itu di TV!" kata Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait kepada detikcom, Rabu (8/6/2010).
Menaggapi fenomena TV, Yasraf Amir Piliang dalam bukunya "sebuah dunia yang dilipat” berpendapat “rangkaian tontonan yang disuguhkan oleh media elektronik kapitalisme telah menggiring masyarakat konsumerisme kedalam satu eksodus menuju satu nihilisme dan fatalisme kehidupan, kehidupam yang dilandasi bukan oleh moral, keimanan, atau makna luhur, melainkan oleh kedangkalan ritual, penampakan, dan simulacra profon”
Kita tidak bisa menyalahkan sepenuhnya bahwa degradasi moral bangsa ini penyebab utamanya adala TV. Karena TV juga banyak manfaatnya, sekarang tinggal bagaimana kita bisah memilih. Apabila yang ditnyangkan TV tersebut bermanfaat, maka kita wajib mengkonsumsi dan memberdayakannya. Apabila yang ditanyangkan membawa mudharat, maka disnilah peran kita semua untuk menolak dan melarang penyiarannya. Harapan besar juga kepada pemerintah melalui Menkoinfo dan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) untuk bisa mem-filter setiap acara di TV.

Tidak ada komentar: