Rabu, 01 September 2010

Bisnis Ramadhan

oleh: Malik Ibn Syafi'i
Bulan Ramadhan selalu memberikan warna tersendiri bagi kaum muslimin di Indonesia. Banyak sekali kehangatan dan kejutan yang terjadi selama bulan Ramadhan. Setiap memasuki bulan ramadhan atau bulan puasa selalu kita jumpai umat islam berbondong-bondong meningkatkan iman beserta taqwa yang biasa kita lihat dengan penuhnya masjid-masjid setiap shalat, tadarusan siang malam berdendang tanpa henti, bahkan umat islam kelihatan sangan erat persaudaraannya dengan shalat berjama’ah dan saling bersilaturrahim.
Tidak selesai sampai disitu umat islam dalam menyambut dan melaksanakan bulan ramadahan tidak henti-hentinya mensyiarkan dakwah islamiyah baik secara lisan maupun tulisan. Banyak halaqoh-halaqoh kecil serta kajian ramadhan yang tersebar di media cetak dan elektronik.
Meskipun demikian, jika kita berkaca dengan ibadah puasa yang di lakukan orang tua kita terdahulu, maka banyak sekali terjadi pergeseran, baik secara kualitas maupun kuantitas. Kualiatas dalam artian banyak diantara kita sekarang yang menjalankan puasa hanya sekedar formalitas belaka yang dilaksanakan
berulang-ulang tiap tahun tanpa didasari rasa bahwa puasa adalah suatu ritual yang sarat makna dan hikmah terkandung dalam pelaksanaannya. Begitu juga secara kuantitas dalam artian nilai-nilai ibadah puasa yang kita laksanakan harus diiringi dengan ibadah-ibadah lain sebagai penunjang keafdholan puasa.
Dewasa ini, bukan lagi kenikmatan dan penghanyatan terhadap puasa untuk meraih tinggkat takwa yang terjadi. Akan tetapi, Ramadhan dianggap sebagai bulan bisnis yang didalamnya banyak terkandung komerialisasi atas nama Ramadhan.
Apabila kita amati fenomena puasa akhir-akhir ini, jika diawal puasa masjid penuh dengan jama’ah yang salat isya, tarawih dan witir, lalu kemana jama’ah tersebut sekarang? Hanya menyisakan beberapa shaf dan segeletir pemuda, ironis memang.
Dahulu orang-orang sibuk beri’tikaf dan meramaikankan masjid diawal terlebih diakhir-akhir ramadhan untuk mendapatkan rahmah, maghfiroh dan itqu min al-nar serta lailatul qadr tapi sekarang orang-orang terlebih kaum muda lebih senang meramaikan Mall-mall dan berbelanja di pasar dibanding beri’tikaf dimasjid.
Fenomena ini juga dimanfaatkan oleh para artis dengan berubah ppenampilan secara spontan dan banyak juga grup band yang berubah aliran, semua dengan alasan untuk mengejar pasaran Ramadhan. Ini menunjukkan bahwa betapa bulan ramadhan telah menjadi bulan komersial.
Mari kita bercermin sejauh mana ibadah yang kita lakukan selama ini? Puasa bukan hanya sekedar ritual tahunan dengan segala simbol-simbol atas nama keaagamaan, bukan juga sekedar menahan lapar dan haus, terlebih menganggap Ramadhan sebagai sarana untuk bisnis. lebih dari itu puasa mencoba mengajak kita mensrtukturisasi kesadaran keagamaan dari yang sifatnya personal ke kesadaran yang sifatnya sosial dengan harapan mendapatkan derajat muttaqin.

Tidak ada komentar: